Please Select Your Languange

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Like This Blog

Sabtu, 17 Maret 2012

Happy Feet Two


Tak ada yang menyangka bahwa kolaborasi Warner Bros Animation dengan Animal Logic Studios di tahun 2006, bersama sutradara berstatus acclaimed, George Miller (‘Mad Max Trilogy’, ‘The Witches Of Eastwick’) dalam ‘Happy Feet’ muncul sebagai sajian animasi yang begitu spesial mencuri hati setiap penontonnya, bahkan memenangkan Oscar untuk kategori Best Animated Feature mengalahkan Pixar dengan ‘Cars’-nya. Miller yang hengkang dari karirnya sebagai dokter itu memang cermat sekali memanfaatkan momen eco-message sebuah spesies pinguin bernama Emperor yang belum sampai setahun sebelumnya hadir dari film dokumenter karya Luc Jacquet, ‘March Of The Penguins’ yang juga memenangkan Oscar dalam pleasure yang berbeda dan lebih potensial dalam resepsi universalnya. Menggabungkan talenta-talenta besar para pengisi suaranya yang rata-rata aktor papan atas Hollywood (sebagiannya asal Australia, negara asal Miller) dengan style musikal yang dipenuhi lagu-lagu pop/rock klasik, Miller membuat semua pemirsanya seakan ikut menari bersama para pinguin itu sambil belajar tentang ekosistem mereka. So then, ditambah hasil box office yang juga sama fenomenalnya, tentu tak ada alasan untuk tak melanjutkannya.
Namun Miller mungkin cepat sekali lupa dengan salah satu franchise miliknya yang juga berkelas monumental dan tak jauh-jauh dari animasi meski tampilannya live action, ‘Babe’, dimana ia terjerembab dalam penggarapan sekuelnya. Sebagian kritikus mungkin tetap mengelu-elukan keberanian Miller mengeksplorasi gaya berbeda dari sekuelnya yang terjebak dalam kegelapan secara overexposed itu, sama seperti sekuel ini. Yeah, right. Sebuah franchise boleh saja dilanjutkan dengan inovasi berbeda. Sah, namun meninggalkan benang merah excitement-nya terlalu jauh ke belakang, juga bukan tindakan yang diinginkan banyak orang. Dan kenyataannya, Miller mengulang lagi kebiasaan itu dengan seabrek kesalahan yang sama. Tone yang kelewat di-push untuk jadi segelap mungkin, pesan yang jadi preachy dan cerewet, berikut banyaknya karakter baru yang porsinya jadi overdominated sampai menyepelekan karakterisasi tokoh-tokoh kunci bagi franchisenya.
Erik (Ava Acres), anak dari pasangan pinguin Mumble (Elijah Wood) dan Gloria (kini disuarakan Alecia Moore aka Pink setelah Brittany Murphy tutup usia beberapa waktu lalu) mengalami nasib yang sama dengan ayahnya dulu. Ia bingung menyadari bakat sebenarnya di tengah kebiasaan para pinguin yang suka menyanyi dan menari. Tersisih akibat choreo-phobianya, bersama temannya Boadicia (Meibh Campbell) dan Atticus (Lil P-Nut), Erik mengikuti pinguin Ramon (Robin Williams) kembali ke tanah asalnya di Adelie-Land yang sekarang berada di bawah pengaruh The Mighty Sven (Hank Azaria), pinguin terbang dengan sejumlah keajaiban. Mumble yang menyusul mereka terpaksa pasrah dengan kenyataan bahwa Erik lebih mengidolakan Sven ketimbang dirinya. Dalam perjalanan pulang, Mumble menyelamatkan singa laut raksasa/elephant seal Bryan (Richard Carter) yang awalnya menghalangi mereka dengan angkuh sebagai penguasa samudera. Namun masalah sebenarnya justru baru berlangsung atas bencana runtuhnya gunung es yang menjebak populasi mereka di tengah-tengahnya. Bersama Erik, Mumble pun harus memutar akal untuk menyelamatkan sukunya, mulai dari berburu ransum, melawan serbuan burung-burung ganas, meminta pertolongan Sven bersama pinguin-pinguin Adelie bahkan balik meminta balas budi Bryan bersama spesiesnya saat sekelompok manusia penyelamat lingkungan pun gagal menyediakan jalan. Satu-satunya cara adalah tap dancing massal untuk meruntuhkan sebagian lagi gunung es yang jadi penghalang. Nun jauh di bawah sana, dua udang kecil/krill Will (Brad Pitt) dan Bill (Matt Damon) tengah berusaha merubah nasib mereka dalam rantai makanan terbawah di Antartika.
Tak bisa disangkal, usaha Miller bersama tiga penulis lainnya, Gary Eck, Warren Coleman dan Paul Livingston dalam menghadirkan karakter dua krill yang kebetulan diisi oleh Brad Pitt dan Matt Damon sebagai nama terbesar di sekuel ini terasa sekali terpengaruh oleh kesuksesan Scrat dalam franchise ‘Ice Age’ sebagai distractor plot terbesar namun sekaligus jadi highlightnya. Tapi tak digagas lepas seperti Scrat yang serba polos tanpa dialog, mereka malah terlihat keasyikan membangun karakternya dengan parodi bromance dibalik motivasi yang (maunya) dihubung-hubungkan dengan pesan lingkungan tapi malah jadi konyol tak kepalang. Dan Miller agaknya mengulang lagi kesalahan terbesarnya dalam ‘Babe : Pig In The City’ dalam menghadirkan konflik serba gelap dari excitement segala umur yang sudah sukses dimunculkannya dalam ‘Happy Feet’ di tengah-tengah pusat plot yang malah mirip film disaster, lengkap dengan gambaran penderitaan memilukan dan chaos psikologis yang pastinya tak bisa berkomunikasi akrab dengan pemirsa belia. Apa yang hadir ke depan penontonnya justru lebih seperti keluhan seorang nenek-nenek cerewet yang menjemukan ketimbang popular knowledge yang informatif.
Bangunan karakter-karakter baru termasuk Sven dan twistnya yang tak masuk akal bersama plot cinta-cintaan antara Ramon dan Carmen (Sofia Vergara) pun jatuhnya jadi annoying dan serba tak perlu. Belum lagi sejumlah karakter pinguin baru (salah satunya yang disuarakan rapper Common) dan para elephant seal hingga sempalan manusia yang seakan saling berlomba mengambil kepentingan. Dan parahnya, ini justru menempati posisi terbesar hingga menggeser karakter baru yang harusnya tampil paling ke depan atas bangunan plotnya, Erik, bersama pastinya dua tokoh utama dalam film pertama, Mumble dan Gloria. Salah satu adegan yang seharusnya sangat penting menunjukkan turnover penemuan bakat Erik justru muncul dalam musikalitas gaya opera dengan lirik yang obviously ridiculous, bahkan mungkin tak membuat pemirsanya perduli atau mengingat nama Erik sekuat kita semua mengingat Mumble dalam ‘Happy Feet’. Anda pun tak bakal ingat sebagian tampilan karakter pinguinnya ketika disodori action figure atau merchandise lain. Apa boleh buat, sekuel ini hanya menyisakan tampilan singing dan dancing sequence bersama beberapa lagu pop/rock klasik termasuk beberapa nomor lain dari Queen yang memang menarik dibalik digital animation-nya, kali ini dari Dr. D Studios, yang cukup rapi. Terserah sebagian kritikus yang membandrolnya penuh pendalaman hingga berserius-serius ria bagi kepuasan penonton (sok) dewasa. Namun selebihnya, I’ll assured you once again, this was meant to be a holiday movie of the seasons, but these feet, ain’t as happy as the first one. (dan)

sumber : danieldokter.wordpress.com

Untuk FIlm Fil ini silhakan kunjungi theatre terdekat atau download di www.ganool.com

Negeri 5 Menara


Meski kurang dari segi antusias penonton, film negeri 5 menara masih dapat bernafas lega sebagai film yang mendidik dan menghibur. Film yang diangkat dari novel best seller Ahmad Fuadi ini, mengangkat sebuah realita kehidupan yang ada di pesantren. Bagaimana perjuangan seorang anak yang harus rela jauh-jauh masuk ke pesantren yang baginya adalah sebuah pilihan yang sangat sulit.
Film yang diputar tanggal 1 Maret 2012 serentak seluruh Indonesia, kini sudah hadir di Semarang. Ada dua tempat yang memutar film ini, Citra 21 dan M Plazza. Namun, ditengah pemutaran perdananya, saya yang menyaksikan langsung di bioskop masih melihat kurangnya animo dari masyarakat terhadap perfilm di Indonesia. Bangku-bangku kosong masih menjadi idola rupanya. Padahal film yang diangkat ini adalah film yang diadaptasi dari sebuah novel best seller. Dan biasanya untuk film bergenre drama ini dan melihat yang sudah-sudah, pasti ramai saat pemutaran perdananya. Tapi ini tidak rupanya.
Mungkin yang sudah membaca novelnya sangat menyelami alur cerita dari negeri 5 menara ini.  Seru, ada lucunya dan ada nilai-nilai penyemangat serta mendidik. Seperti biasa ketika sebuah film diangkat dari novel, tidak semua alur cerita akan sama. Di film ini, penggambarannya sederhana sekali namun memiliki klimaks di pertengahan dan di akhir film.
Saat saya mulai menonton, saya sudah tahu alur ceritanya. Namun, saya sedikit terkejut dengan tokoh yang diberikan dari film ini. Tokoh utama yang bernama Alif memiliki ciri-ciri fisik dengan penggambaran rambut panjang dan berkacamata dan sedikit kumis yang mungkin bisa dibilang lebat untuk di usianya tersebut.
Pemandangan alam yang indah menjadi latar setting yang mampu menghidupkan suasana film ini. Selain itu, kultur masyarakat Indonesia bagian Sumatra sangat ditonjolkan sekali. Yah, tentu adalah sebuah kebanggaan bagi masyrakat yang menonton bahwa kita diajarkan melihat lebih dekat mengenai budaya yang ada.
Satu hal yang perlu digaris bawahi, tidak semua orang tahu bagaimana kehidupan pesantren yang sebenarnya. Di film ini, saya sedikit banyak belajar dan mengetahuinya. Bahkan untuk bisa masuk ke pesantren ternyata harus juga mengikuti tes masuk sama halnya dengan masuk ke Sekolah.
Penonton mulai tertawa ketika ada sebuah adegan dimana Alif yang sedang dipeluk ayahnya yang barusan diterima di pesantren tersebut tiba-tiba rambutnya sudah dipotong. Alif disini digambarkan sebagai remaja yang pemalu dan pendiam. Baginya, masuk ke pesantren adalah pilihan yang salah.
Hadirnya Ikang Fauzi sebagai kiyai di film ini tentu menjadi hal menarik selain beberapa artis baru yang dimasukkan dalam perfilm Indonesia. Filosofi Man Jadda Wajadda seakan menjadi icon di film yang berdurasi 120 menit ini. Hal-hal kecil yang terjadi di sekitar pesantren seperti listik padam mampu menarik tawa dari para penonton.
Nggak seru dunk, di film ini tanpa dibumbui panah-panah asmara. Tenang aja. Di film ini wajah cantik si Eriska Rein yang berperan sebagai sarah menjadi tantangan tersendiri bagi Alif dan kawan-kawan. Bahkan, mereka bersepakat jika Alif bisa berfoto bareng dengan Sarah, teman-teman Alif mau mencucikan pakaian Alif selama seminggu.
Penonton yang ada disamping saya tak menahan tawanya ketika beberapa adegan mencuri perhatian mereka. Adegan seperti memperbaiki genset dan membawa tv kedalam pesantren seolah menjadi hal tabu ternyata di film ini, para sahabat Alif bisa mewujudkannya.
Klimaks sebenarnya dari film ini adalah saat Baso yang menjadi orang yang memiliki jiwa pemimpin diantara mereka harus pergi disaat sedang memulai sebuah kegiatan. Karena alasan neneknya yang sakit, ia harus meninggalkan perjuangannya dan sahabat-sahabatnya. Dan ketika acara yang sudah disusun rapi tersebut, kini giliran Alif yang harus bertentangan dengan jiwanya.
Bagaimana akhirnya? sepertinya kalian harus menonton sendiri dan pasti tahu jika udah membaca novelnya. Yang jelas film ini sangat layak di tonton oleh siapapun. Yuk cintai per film-an Indonesia.


Sumber : dotsemarang.blogdetik.com

Kamis, 05 Januari 2012

2-step verification in gmail

Trik Menjaga Keamanan Akun Gmail - Dunia internet memang sudah semakin luas, penggunanya pun terus bertambah seiring jalannya waktu. Tentu saja ini merupakan sasaran empuk bagi para hacker. Dan target yang paling umum adalah e-mail. Ternyata tidak hanya e-mail Yahoo! saja yang mudah di hack, e-mail dari Google (Gmail) ternyata juga bisa. Maka dari itu untuk menanggulanginya Google meluncurkan 2-step verification semenjak Februari 2011 yang lalu, namun fitur keamanan ini belum banyak diketahui orang.

Maksud dari 2-step verification adalah, kita membutuhkan 2 tahap untuk log in di akun Gmail. Tahap pertama yaitu seperti biasa kita log in menggunakan e-mail dan password gmail kita. Tahap kedua kita harus memasukkan kode verifikasi yang dikirimkan ke handphone yang sudah di-set. Tentu saja dengan cara ini akun Gmail benar-benar aman.


Berikut trik menjaga keamanan akun Gmail dengan cara mengaktifkan fitur 2-step verification tersebut.


1. Pastikan kita sudah log in menggunakan akun Gmail kalian, lalu pada halaman utama Google di pojok kanan atas klik setelan akun.

Menjaga

2. Setelah itu klik menu 'Menggunakan verifikasi 2 langkah' lalu kita akan diperintahkan untuk log in kembali.


Menjaga

3. Lalu klik mulai penyiapan dan setelah itu masukkan nomor telepon kita dan pilih metode pengiriman kode. Kita juga harus melakukan uji coba untuk mengecek apakah kode bisa benar-benar terkirim ke handphone kita. Jika sudah, klik 'berikutnya'.

menjaga

4. Jika kita menggunakan PC pribadi, centang pada menu 'ingat komputer ini selama 30 hari'. Jika tidak hilangkan saja centangnya. Lalu klik 'berikutnya'.


5. Lalu klik 'aktifkan verifikasi 2 langkah'.


6. Disini kita akan diberikan pilihan jika seandainya nomor telepon yang kita gunakan beramasalah atau tidak bisa digunakan lagi, yaitu nomor telepon cadangan dan kode cadangan. kita bisa menambah nomor telepon cadangan dengan memilih 'tambah nomor telepon' dan seandainya nomor telepon cadangan kita juga bermasalah. kita bisa menggunakan kode cadangan yang telah diberikan (berjumlah 10 kode). Sebaiknya simpan atau cetak kode-kode tersebut dan simpan di tempat yang mudah diingat.

menjaga


7. Selamat, kini dengan Trick Menjaga Keamanan Akun Gmail, akun Gmail kalian sudah dilapisi oleh 2 step verification, dan tentu keamanannya tambah terjamin.

NB: Sebaiknya cara ini hanya digunakan di e-mail yang benar-benar penting saja, seperti akun Blogger, Google AdSense, dan lain-lain, karena pasti akan sangat merepotkan jika kita menggunakannya di semua akun.

www.tituitbom.com